Omo Hada, 3 Keunikan Rumah Adat Nias

Rumah Adat Nias

Nias merupakan salah satu daerah yang sering dianggap sama dengan Sumatera Utara, padahal nyatanya berbeda meskipun tempatnya dekat. Keindahan wisata alam dan juga pemandangan Pulau Nias atau Tano Niha memanglah memukau.

Untuk anda yang ingin tahu letak geografisnya, Tano Niha berada di sebelah barat pulau Sumatera. Nias juga terkenal akan adatnya, atraksi lompat batu dengan ketinggian yang tidak main-main.

Membahas mengenai adat, ada juga yang dapat kita bahas yaitu rumah adat Nias atau biasa disebut sebagai Omo Hada.

Jika dilihat secara mendalam, Rumah di Nias merupakan salah satu rumah adat yang mengandung banyak makna dan juga filosofi. Rumah di nias merupakan potret tradisi nenek moyang yang berasal dari suku Nias.

Gunanya selain tempat berteduh seringkali bermanfaat sebagai tempat untuk melindungi diri ancaman dari alam sekaligus potensi alam dalam membina bangunan. Berikut ini deretan keunikannya:

Enam Tiang

Rumah Adat Nias

Jika membangun rumah adat keunikan atau ciri khas yang pertama yaitu dibuat atau dibangun dengan enam tiang utama yang menyangga seluruh bangunan.

Ukuran bangunanya juga tidak main-main dan cukup besar. Untuk empat tiang bisa anda lihat dibagian ruang tengah rumah, sisanya berada di papan dinding kamar utama dengan bentuk yang tertutup.

Selain itu, dua tiang di tengah tersebut mengartikan Simalambuo yang berupa kayu bulat yang menjulang dari dasar hingga ke puncak rumah.

Tanpa Jendela

Rumah adat memang memiliki keunikan sendiri-sendiri, setelah tiang yang ada 6 buah untuk mendirikan rumah adat Nias, ada pepatah dan aturan yang menjelaskan yaitu “Semakin lebar jarak antara tiang simalambuo dengan tiang manaba maka semakin berpengaruhlah si pemilik rumah,”. Keunikan lain datang dari rumah Nias yang tidak memiliki jendela.

Maksudnya adalah rumah nias menggunakan pintu dan jendela kusen untuk jendela namun tidak ada daun jendelanya. Sehingga orang lain dapat melihat ke dalam rumah, hal ini menjelaskan bahwa masyarakat Nias memiliki sikap yang terbuka dan juga menerima siapapun tamu yang datang. Rumah adat ini juga mempermudah pemiliknya untuk bisa tahu apa saja acara yang sedang diselenggarakan, terutama yang berkaitan dengan adat dan masalah masyarakat setempat.

Tidak Menggunakan paku

Rumah adat Omo Hada menghindari adanya penggunaan paku karena membahayakan sehingga menggunakan pena dan juga pasak kayu, dimana rumah tersebut meskipun besar masuk kedalam rumah knock down alias bongkar pasang. Bahan yang digunakan juga tidak sembarangan dan didapatkan dari hutan yang ada di Nias. Sekarang ini sudah sulit mencari kayu untuk rumah adat karena kayunya sendiri sudah dibabat habis.

Penuh Ukiran

Jika anda melihatnya dari segi artistik, rumah adat Nias juga menjadi menggunakan ukiran di sisi omo hada. Mulai dari rumah yang berukir dengan menghias interior dan juga eksterior rumah sampai dengan ukiran yang benar-benar menggambarkan upacara atau adat Nias yang memiliki cerita. Adanya kayu-kayu berukir menghias interior dan eksterior rumah menjelaskan bahwa masyarakat Nias memiliki rasa seni yang tinggi.

Tahan Gempa

Kenapa omo hada tidak rubuh saat gempa ? adanya penggunakan kayu yang tepat menyebabkan rumah yang dibuat menjadi elastis dan tahan gempa. Sehingga rumah adat ini ikut bergerak ketika terjadi gempa tanpa ada patahan. Gerakan itu memang membuat posisi tiang bergeser dan juga miring, namun jarang mengalami kerusakan yang parah.